Pemegang Saham Terbesar YOU Inc.

Hormati dan hargai orang tua mu, mereka membayar studimu setidaknya 20 tahun.  Kamu tidak pernah tahu apa pengorbanan yang telah mereka hadapi dan lakukan  untuk karir dan kesuksesanmu. Orang tuamu  mungkin tidak sempurna tapi mereka adalah yang pemberian paling berharga dari Tuhan yang pernah diberikanNya untukmu.

                                                                                                Timotius Oyong – Achiever Coach

Setiap tahun ratusan mahasiswa S1 di kampus masing masing merayakan wisuda mereka bersama orang orang yang mereka cintai. Dominasi kehadiran para Ayah dan Ibu dalam acara wisuda di auditorium  penyelanggaraan upacara wisuda adalah pemandangan yang biasa. Demikian juga dengan ayah ibu  dari tiga sekawan Hani, Agus dan Iwan turut hadir disana.

Hani, Agus dan Iwan  tidak hanya sama dalam hal usia, universitas dan jurusan yang mereka pilih, namun juga dalam hal strata ekonomi . Orang tua mereka masing masing belum mempunyai rumah, setiap dua tahun harus memperpanjang kontrak rumah dan beberapa kali harus pindah rumah. Bagi orang tua pendidikan anak adalah prioritas utama, sehingga kepemilikan rumah di letakkan pada tangga prioritas yang lebih bawah. Adauang atau tidak ada uang, uang kuliah tetap ada setiap bulannya.

Tak terasa waktu 20 tahun meluncur cepat seperti peluru. Mereka bertiga telah sibuk masing masing dengan pilihan karir dan hidup di kota pilihan mereka sendiri.

Hani awalnya bekerja di pabrik sparepart otomotif yang terkenal, kemudian pindah ke bagian customer service, dan pindah ke bidang sales pada beberapa perusahaan namun karirnya sulit berkembang. Spertinya ada plafon rumah atau atap yang menghambat karirnya untuk maju.

Agus mengalami situasi yang lebih baik. Dia memang orang yang sangat jujur dan berintegritas, setelah dua kali pindah kerja, Agus diterima bekerja di sebuah perusahaan besar sebagai bagian pembelian atau purchasing. Karirnya meningkat cukup baik hingga dipercaya sebagai Senior Purchasing Manager.

Sedangkan Iwan, meski  nilai kuliahnya tak sebaik Hani dan Agus, namun dia mengalami lompatan lompatan karir yang menegejutkan, satu persatu promosi diraihnya hingga posisi direktur dan secara penghasilan bulanan Iwan jauh meninggalkan kedua temannya,

Apa yang membedakan mereka bertiga ? Mengapa rejeki mereka berbeda jauh satu sama lain ? bukankah mereka dari kampung yang sama, Jurusan yang sama ? Universitas yang sama ? Lulus pada tahun yang sama ?  Mengapa ? Ataukah Hani dan Agus terlalu boros dalam keuangan dan salah dalam mengatur pengeluaran ?

Ternyata tidak, mereka bertiga bukan tipe pemboros, mereka juga bukan penjudi, namun ada hal yang berbeda dari ketiga nya, yaitu cara mereka mengalokasikan uang penghasilan bulanan masing masing.

Hani terlalu sibuk dengan kebutuhan istri dan anak anaknya, meski hati nya ingin mengirim uang kepada ayah dan ibunya, namun setiap bulan tidak pernah ada uang lebih.  Hani gagal mengirim uang tersebut ke kampung selama 20 tahun, kecuali hanya pada saat pulang kampung setahun sekali, itupun hanya dalam jumlah yang sedikit

Baca Juga: Investasi Pasti Kembali

Agus juga mengalami hal yang sama dengan Hani, kebutuhan istri dan anaknya menyedot habis penghasilannya,  namun Agus berusaha tetap memberi uang kepada orang tuanya meski hanya tiga kali dalam setahun.

Sedangkan Iwan berbeda sikapnya. Setiap bulan dia selalu menyisihkan uang untuk ayah dan ibunya, kemudian baru dia mengatur keuangan untuk anak dan istrinya.  Selama 20 tahun Iwan tak pernah absen mengirim uang bulanan ke kampung. Kalaupun tidak ada uang, dia rela berhutang untuk memastikan bahwa ayah ibunya tetap mempunyai uang untuk keperluan hidup mereka. Iwan sadar sedalam dalamnya bahwa jika dia hari ini bisa bekerja dan memperoleh penghasilan itu karena pengorbanan orang tuanya selama 22 tahun. Iwan yakin bahwa saat dia sekolah orang tuanya pun tanpa bercerita pernah beberapa kali rela berhutang demi kelangsungan pendidikannya.

Pola pikir itulah yang membuat Iwan konsisten setiap bulan mengirim uang untuk orang tuanya. Dan ternyata tanpa Iwan sadari sikap hati dan tindakannya dipandang baik dan mulia oleh Yang Kuasa. Rejeki Iwan mengalir lebih deras dibandingkan dengan kedua temannya, seakan aliran sungai yang tak pernah kering rejeki mengalir dengan lancar.

Bagaimana dengan kita ? Sejak awal kita berkarir sampai dengan hari ini sudahkah kita masing masing memberi uang kepada orang tua kita secara rutin ? Setiap bulan ?

Paling tidak  duapuluh  tahun lamanya mereka menginvestasikan waktu, tenaga dan uang mereka untuk memampukan kita  mempunyai penghasilan. Orang tua adalah investor terbesar dalam karir dan kehidupan kita. Investor yang menanam  bukan untuk dirinya sendiri. Mereka mananam semata mata untuk kita tuai hasilnya. Jika  boleh diibaratkan perusahaan YOU Inc. maka orang tua kita, sejatinya adalah pemegang saham  terbesar atas karir kita saat ini., selayaknya mereka ikut menikmati hasil yang kita peroleh.

Bagaimana dengan Anda ? Sudahkah Anda secara konsisten mengirim uang untuk orang tua anda ?  Jika sudah lanjutkanlah  !  , Jika belum pergilah ! Tinggalkanlah artikel ini,  cari ATM terdekat dan transfer uang untuk mereka, karena sejatinya mereka adalah  pemegang saham  terbesar YOU Inc.

Posted in Articles, Career, Inspiratif, Tips and tagged , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *